Friday, November 20

Peradaban Islam=Peradaban Kuno??

“Ngapain kamu mangkal terus di mesjid?”, “Ah, dia cuma anak rohis, cupu”, “Ga gaul banget si, kerjanya baca quran mulu, haha“. Yah, tidak kita sadari, mungkin perkataan tadi perkataan yang sering terlontar ataupun hanya terlintas di benak para masyarakat kebanyakan saat ini. Islam dianggap kuno, cupu, ga gaul, ga keren, dsb. “Sekarang kan udah zaman modern, udah ketinggalan zaman Islam yang kaya gitu”. Masih banyak yang beranggapan kalau Islam itu hanya berupa ritual-ritual keagamaan ataupun hanya label agama yang tertera indah di atas KTP sebagai pengakuan kalau seseorang itu punya agama. Sebagian orang-orang beranggapan bahwa mempelajari Islam adalah suatu kemunduran seperti yang dikatakan seorang filsafat August Comte bahwa agama adalah tahap pertama setelah orang agak maju maka mulailah manusia bisa meningkat kepada filsafat ditahap kedua. Sebuah perkataan yang menurut saya aneh sekali memisahkan agama dengan kehidupan modern dan menjadikan agama tahap yang hanya akan dilewati dan ditinggalkan.
Terutama di zaman sekarang, ghozwul fikr atau yang kita kenal dengan perang pemikiran antara idealisme atau peradaban barat dengan pemikiran-pemikiran Islam yang sedang marak-maraknya saat ini, menjadi serangan yang cukup berat terutama bagi bangsa Indonesia. Berbeda dengan negeri palestina yang mungkin sudah memiliki idealisme Islam yang kuat, tidak mempan lagi untuk dihancurkan dengan pemikiran-pemikiran barat. Suksesnya penguasaan media dan arus globalisasi yang menjadi jalur utama ghozwul fikr itu semakin membuat bangsa ini tercampuri fikirannya, gaya hidup, budaya, menjadi idealisme peradaban barat. Banyak sekali umat Islam yang tidak mengetahui seperti apa peradaban Islam sesungguhnya. Bukan langsung menghilangkan pemikiran Islam tapi pemikiran-pemikiran barat dimasukkan perlahan-lahan ke dalam pemikiran Islam sehingga lama-kelamaan kita jadi menganggap pemikiran barat menjadi sangat hebat dan kita tidak merasakan adanya perbedaan antara 2 pemikiran tersebut sehingga kita tidak melihat adanya kerancuan dalam pencampuran itu. Bahkan banyak cendikiawan Muslim yang bangga akan pemikiran dan peradaban yang didapatnya dari barat. Lembaga pendidikan tinggi di Indonesia pun kini banyak yang menerapkan pemikiran orientalis ke dalam studi Islam. “Sudah saatnya umat Islam menelaah kembali cara berpikir yang komprehensif tentang peradaban Islam. Sebab, peradaban Islam itu adalah peradaban ilmu. Ia sangat kuat dan nilai-nilai yang terkandung di dalamnya sangat tinggi”, Berikut hasil penuturan Dr Hamid Fahmy Zarkasy, Direktur Institute for the Study of Islamic Thought and Civilization (INSISTS) Jakarta.

Memang telah terdapat pendapat bahwa untuk memajukan Islam saat ini, muslim harus banyak belajar dari barat. Tetapi pendapat itu disalahgunakan sehingga tidak heran banyak cendikiawan muslim yang bangga akan pemikiran liberal dan sekularnya. Tetapi setidaknya, kita harus menimbulkan kesadaran bahwa ini merupakan fenomena yang menghambat timbulnya peradaban Islam. Suatu kewajiban bagi umat Muslim apalagi para aktivis dakwah yang katanya berkomitmen untuk menegakkan agama Allah, mengembalikan peradaban Islam ke bumi ini.

Sebenarnya seperti apa sih peradaban Islam yang sebenarnya? Pertanyaan yang patut kita tanyakan melihat banyak sekali umat Islam yang tidak mengetahui peradaban apa yang seharusnya mereka bangun. Berangkat dari sejarah peradaban Islam yang terkenal dengan keilmuannya yaitu pada masa kekhalifahan bani Abbasiyah dimana peradaban Islam menjadi besar dan terpandang di seluruh dunia karena ilmu pengetahuan yang dimilikinya. Hal ini ditandai dengan munculnya para ilmuwan-ilmuwan Islam seperti Naubakht dari Persia, Muhammad bin al-Fazari dari Arab, dan Hunain bin Ishaq yang dulunya adalah seorang penganut Kristen Nestorian dari Hirah, Al-Biruni, Ibnu Sina, dan msih banyak lagi. Dalam naungan hukum Islam, para ilmuwan tidak hanya memberikan kontribusi demi kemajuan ilmu pengetahuan, tetapi juga mengaplikasikan penemuan ilmiahnya dalam bentuk inovasi teknologi. Mereka mengamati bintang-bintang ,kemudian menyusun peta bintang untuk keperluan navigasi. Itulah yang membuat peradaban Islam maju dari segi ilmu pengetahuan dan teknologinya.

Peradaban Islam itu ibarat sebuh pohon yang akarnya tertanam kuat di bumu, dahan-dahannya menjulang tinggi ke langit, dan member rahmat bagi semesta alam (Q.S.Ibrahim:24-25). Akar-akarnya itu dianalogikan sebagai ketauhidan dalam Islam dimana segala sesuatu aktivitas yang dilakukan bagian pohon diatas bersumber dan berawal dari suatu ketauhidan mengesakan dan mengabdi kepada Allah swt. Karena faktor ilmu yang bersumber dari konsep-konsep yang tertera dalam Al-Quran, dari sinilah peradaban Islam berkembang. Dari pemahaman terhadap Al-Quran, muncullah tradisi intelektual Islam yang ditandai pembentukan komunitas yang melahirkan sistem sosial, politik, ekonomi, dan budaya Islam. Dapat dikatakan bahwa peradaban Islam adalah peradaban yang berbasis ilmu pengetahuan dan teknologi.

Jadi, yang tadinya Islam dianggap kuno, ga modern, ga gaul, pada peradaban Islam dianggap sebagai peradaban yang modern, keren, gaul, dan terpandang karena nilai-nilai Islamnya yang menyeluruh dan diimplementasikan dalam setiap bagian-bagian dari yang terkecil sampai yang terbesar dalam kehidupan masyarakat. Bisa dibayangkan ketika di jalan raya ada 2 orang pemuda dan oemudi yang bergandengan tangan ternyata mereka sudah memiliki surat nikah, di tempat-tempat nongkrong dan warung-warung dipenuhi dengan suara tilawah dan mentoring. Pemuda yang memasang mp3 di telinganya ternyata sedang mendengar musik-musik Islami atau sedang menghafal Al-Quran, semua wanita ketika di luar rumah menjaga auratnya dengan sempurna, film-film yang ditampilkan di bioskop adalah film-film yang penuh dengan motivasi dan inspirasi dan membawa nilai-nilai Islam di dalamnya, semua produk dan makanan adalah produksi Islam dan terjamin halal dan tayyib, perjalanan pesawat terbang yang pramugarinya menutup aurat dengan sempurna dimulai dengan membaca doa bersama sebelum melakukan perjalanan, mall-mall diiringi suara nasyid dan toko-toko yang berbasiskan pasar Islam, para olahragawan yang berprestasi tetapi tetap memperhatikan nilai-nilai Islam, keluarga yang berbaiskan mentoring, ulama-ulama yang benar-benar ingin membawa nilai Islam, sistem ekonomi yang bebas dari riba dan berlandaskan zakat, presiden yang mementor para menterinya dalam membawa nilai-nilai Islam sehingga pemerintahan bebas dari korupsi sampai ke akar-akarnya, ideology yang dibawa Negara adalah berdasarkan hukum Islam, sekolah-sekolah yang tiap harinya dihiasi dengan tilawah tiap paginya, salat dhuha bersama dan agama Islam bukan hanya menjadi suatu mata pelajaran didalam pendidikan tetapi menjadi pedoman terhadapat semua mata pelajaran ataupun mata kuliah lain, para ilmuwan-ilmuwan Islam yang inovatif dan selalu menghasilkan karya-karya baru yang bermanfaat bagi umat, masjid menjadi suatu pusat suatu peradaban dan kegiatan, masjid penuh, ketika suara adzan orang-orang berbondong-bondong datang ke masjid, dan masih banyak lagi yang menandakan munculnya peradaban Islam. Tidak dipungkiri pula, peradaban Islam pasti akan menghasilkan kemajuan di segala sektor dalam kehidupan untuk seluruh manusia.

Nah, sekarang, apa sih yang harus kita lakukan untuk mewujudkan peradaban Islam ini? Sebagai seorang mahasiswa, sudah sepatutnya kita menjadi pelopor perjuangan Islam. Kita harus memfilter pengaruh idealisme barat yang sudah merajalela di bangsa kita ini. Hal itu dapat dilakukan dengan berbagai macam cara. Salah satu caranya adalah ikut bergabung organisasi yang memiliki sasaran tertentu dalam dakwah dan dia tetap memegang teguh visi dakwah tetapi mungkin dengan sasaran yang berbeda. Organisasi ini beririsan dengan konsep amal jama’I dalam Islam dimana kita berjuang bersama dalam menegakkan agama Allah. Yang pasti adalah idealisme Islam dan visi dakwah yang harus kita pegang teguh sehingga jalur apapun yang kita tempuh untuk mengembalikan peradaban Islam ini, kita tetap berada dalam satu kesatuan idealism yaitu Islam. Cara lain juga yaitu dengan menjadikan mesjid sebagai pusat kegiatan apapun yang dilakukan sehingga nilai-nilai Islam yang kita bawa tetap terjaga sampai ke aktivitas sekecil apapun yang kita lakukan.

0 komentar:

Post a Comment