UKASYAH PENGHUNI SURGA
(by Rino Ferdian)
PROLOG
Q.S
Sound :
(Pembacaan Puisi)
Aku pernah melihat Al-Musthafa pada sebuah malam
Langit cerah tanpa banyak awan
Ku pandangi wajah Rasulullah
Lalu mataku beralih menatap rembulan
Ternyata menurut penglihatanku
Beliau lebih cemerlang dibanding pendar rembulan
SCENE I
Q.S
Sound :
Narator :
Madinah muram. Di setiap sudut rumah wajah-wajah tertunduk terpekur menatap tanah. Tak ada senyuman yang mengembang, atau senandung cinta yang dilantunkan para ibunda untuk membuai buah hatinya. Sebutir hari terus bergulir, namun semua tetap sama, kelabu. Ujung waktu selalu saja hening, padahal biasanya kegembiraan mewarnai keseharian mereka. Padahal semangat selalu saja menjelma. Namun kali ini, semuanya luruh. Tatapan-tatapan kosong, desah nafas berat yang terhembus bahkan titik-titik bening air mata keluar begitu mudah. Sahara menetaskan kesenyapan, lembah-lembah mengalunkan untaian keheningan. Kabar sakitnya manusia yang dicinta, itulah muasalnya.
SCENE II
Q.S AL-MAIDAH : 3
Sound :
Narator :
Rasulullah kembali dengan membawa wahyu terakhir dan memberitakannya pada para sahabat.
(Sahabat dan Abu Bakar masuk ke panggung. Sahabat-sahabat bergembira dengan telah sempurnanya Islam, akan tetapi Abu Bakar masuk dengan muka sedih dan termenung)
Sahabat1&2 : (Meneriakkan Alhamdulillah…Allahuakbar…berkali-kali)
"Wahyu terakhir telah turun. Al-Quran telah sempurna. Islam telah sempurna. Agama kita telah sempurna!"
Abu Bakar : (Masih sedih dan termenung, memisahkan diri dari para sahabat dan diam di bagian pinggir panggung)
Sahabat1 : (Beberapa saat kemudian, menoleh heran ke arah Abu Bakar)
Eh, liat Sayidina Abu Bakar. Kenapa saat-saat yang membahagiakan ini, beliau malah bersedih?
Sahabat2 : Apa beliau tidak menyadari bahwa Islam sudah sempurna, Al-Quran telah sempurna dengan turunnya wahu terakhir?
Sahabat1&2 : (kebahagiaan tiba-tiba hilang dan digantikan dengan perasaan heran melihat Abu Bakar)
Sahabat1 : (berjalan mendekati Abu Bakar)
Wahai Sayidina Abu Bakar, ada apa gerangan sehingga membuat wajah lembutmu bersedih dan menangis di hari yang berbahagia ini?
Sahabat2 : (Ikut mendekati Abu Bakar)
Kenapa kerjamu menangis saja hai Abu Bakar di saat orang lain semua bersuka-ria, bukankah Tuhan telah menyempurnakan agama kita ?"
Abu Bakar : Kalian semua tidak tahu bencana-bencana apakah kelak yang akan terjadi menimpa kita semua . Apakah kamu tidak mengerti bahwa tidak ada sesuatu apabila ia telah sampai kepada titik kesempurnaan, melainkan itu berarti permulaan kemerosotannya. Dalam ayat terbayang perpecahan di kalangan kita nanti, dan nasib Hasan dan Husein yang akan menjadi anak yatim, serta para isteri Rasul yang menjadi janda.
Sahabat1&2 : (terduduk dan menangis seketika, lalu terus menerus beristighfar)
Narator :
Mendengar itu terpekiklah para sahabat dan dalam suasana penuh keharuan mereka menangislah semuanya, dan terdengarlah ratap tangis yang sayu dari rumah Abu Bakar itu oleh para tetangga yang lain dan mereka ini datang segera langsung kepada Rasul Muhammad s.a.w. sendiri sambil menanyakan kepada beliau tentang hakikat kejadian yang sebenarnya.
Ali : (Masuk panggung lalu memperlihatkan Abu Bakar yg menceritakan ulang apa yang Beliau rasakan)
Rasulullah : Apakah yang kalian tangiskan?
Ali : Abu Bakar berkata kepada kami: "Sesungguhnya saya mendengar angin kematian Rasulullah berdesir melalui ayat ini," dan bukanlah dapat dijadikan bukti ayat ini bagi kematian engkau ?"
Rasulullah : Benarlah Abu Bakar dalam segala apa yang dikatakannya itu. Telah dekat masa kepergianku dari antara kamu semua, dan telah datang masa perpisahanku dengan kamu semua
Narator :
Penegasan Rasul itu adalah isyarat, bahwa benarlah Abu Bakar seorang yang paling arif di antara para sahabat Rasul. Dan ketika Abu Bakar mendengar ucapan Rasul itu ia pun berteriak dan lantas jatuh pingsan. Ali menjadi gemetar, para sahabat menjadi gelisah; mereka semua ketakutan dan menangis menjadi-jadi. Begitu juga para malaikat di langit, makhluk-makhluk melata di bumi, hewan-hewan di daratan dan di lautan semuanya turut berkabung duka cita. Kemudian Rasul bersalam berjabatan-tangan dengan satu demi satu para sahabat mengucapkan perpisahan dan beliau pun menangislah sambil memberikan amanah-nasehat kepada mereka semua. Selanjutnya bayang-bayang akan kepergian sosok yang selalu dirindu sepanjang masa terus saja membayang, menjelma tirai penghalang dari banyak kegembiraan.
SCENE III
Sound :
(Bilal masuk ke panggung lalu mengumandangkan adzan. Saat adzan berlangsung, para masyarakat tergesa-gesa masuk ingin mendengar pidato rasulullah)
Narator :
Dan masa pun berselang.
Mesjid penuh sesak, kaum Muhajirin beserta Anshar. Ada sosok cinta di sana, kekasih yang baru saja sembuh, yang membuat semua sahabat tak melewatkan kesempatan ini. Suaranya basah, menyenandungkan puji dan kesyukuran kepada Allah yang Maha Pengasih.
Rasul : Duhai sahabat, kalian tahu umurku tak akan lagi panjang, Siapakah diantara kalian yang pernah merasa teraniaya oleh si lemah ini, bangkitlah sekarang untuk mengambil kisas, jangan kau tunggu hingga kiamat menjelang, karena sekarang itu lebih baik".
(Semua yang hadir terdiam, semua mata menatap lekat Rasul yang terlihat lemah)
Narator :
Tak akan pernah ada dalam benak mereka perilaku Rasul yang terlihat janggal. Apapun yang dilakukan Rasul, selalu saja indah. Segala hal yang diperintahkannya, selalu membuihkan bening sari pati cinta. Tak akan rela sampai kapanpun, ada yang menyentuhnya meski hanya secuil jari kaki. Apapun akan digadaikan untuk membela Al-Musthafa.
Melihat semua yang terdiam, rasul mengulangi lagi ucapannya, kali ini suaranya terdengar lebih keras. Masih saja para sahabat duduk tenang. Hingga ucapan yang ketiga kali…
Ukasyah : (mengangkat tangannya lalu berkata dengan takut dan terbata-bata menatap ke lantai)
Ya Rasul Allah, Dulu aku pernah bersamamu di perang Badar. Untaku dan untamu berdampingan, dan aku pun menghampirimu agar dapat menciummu, duhai kekasih Allah, Saat itu engkau melecutkan cambuk kepada untamu agar dapat berjalan lebih cepat, namun sesungguhnya engkau memukul lambung samping ku…
Rasul : Wahai Bilal, pergilah ke rumah Fatimah dan mintalah cambukku dan bawa ke sini
Bilal : Tapi ya Rasul…(menghentikan suaranya lalu berjalan lemas ke luar panggung)
SCENE IV
Sound :
Narator :
Tampak keengganan menggelayuti Bilal, langkahnya terayun begitu berat, ingin sekali ia menolak perintah tersebut. Ia tidak ingin, cambuk yang dibawanya melecut tubuh kekasih yang baru saja sembuh. Namun ia juga tidak mau mengecewakan Rasulullah.
Bilal : Inilah Rasulullah memberikan kesempatan mengambil qisas terhadap dirinya. (lalu diketoknya pintu rumah Fatimah)
Fatimah : (menyahut dari dalam) Siapakah di luar?
Bilal : Saya datang kepadamu untuk mengambil cambuk Rasulullah
Fatimah : Apakah yang akan dilakukan ayahku dengan cambuk ini?
Bilal : Ya Fatimah, Ayahmu memberikan kesempatan kepada orang lain untuk mengambil qisas terhadap dirinya.
Fatimah : Siapakah pula gerangan orang itu yang sampai hati mengqisas Rasulullah?
(kemudian Bilal langsung pergi, Fatimah terheran-heran lalu ikut mengejar Bilal keluar pangung)
SCENE V
Narator :
Segera setelah sampai, Rasul menyuruh Bilal memberikan cambuk kepada Ukasyah.dengan cepat cambuk berpindah ke tangan 'Ukasyah. Masjid seketika mendengung seperti sarang lebah.
(Sekonyong-konyong melompatlah dua sosok dari barisan terdepan, melesat maju. Yang pertama berwajah sendu, janggutnya basah oleh air mata yang menderas sejak dari tadi, dia lah Abu Bakar. Dan yang kedua, sosok pemberani, yang ditakuti para musuhnya di medan pertempuran, Rasul menyapanya sebagai Umar Ibn Khattab)
Abu Bakar : Hai Ukasyah, pukullah kami berdua, sesuka yang kau dera. Pilihlah bagian manapun yang paling kau inginkan.
Umar :kisaslah kami, jangan sekali-kali engkau pukul Rasul
Rasul :Duduklah kalian sahabatku, Abu Bakar dan Umar. Allah telah mengetahui kedudukan kalian
(Rasul memberi perintah secara tegas. Ke dua sahabat itu lemah sangsai, langkahnya surut menuju tempat semula. Mereka pandangi sosok 'Ukasyah dengan pandangan memohon. 'Ukasyah tidak bergeming. Melihat Umar dan Abu Bakar duduk kembali, Ali bin Abi thalib tak tinggal diam. Berdirilah ia di depan 'Ukasyah dengan berani)
Ali : Hai hamba Allah, inilah aku yang masih hidup siap menggantikan kisas Rasul, inilah punggungku, ayunkan tanganmu sebanyak apapun, deralah aku
Rasul : Allah Swt sesungguhnya tahu kedudukan dan niat mu duhai Ali, duduklah kembali
(kini yang tampil di depan U'kasyah adalah Hasan dan Husain)
Hasan : Hai Ukasyah, engkau tahu, aku ini kakak-beradik, kami adalah cucu Rasulullah, kami darah dagingnya…
Husein : Benar, bukankah ketika engkau mencambuk kami, itu artinya mengkisas Rasul juga
(Tetapi sama seperti sebelumnya Rasul menegur mereka)
Rasul : Duhai penyejuk mata, aku tahu kecintaan kalian kepadaku. Duduklah.
Narator :
Masjid kembali ditelan senyap. Banyak jantung yang berdegup kian cepat. Tak terhitung yang menahan nafas. 'Ukasyah tetap tegap menghadap Rasul. Kini tak ada lagi yang berdiri ingin menghalangi 'Ukasyah mengambil kisas.
Rasul : Wahai Ukasyah, jika kau tetap berhasrat mengambil kisas, inilah Ragaku..
Ukasyah : Ya Rasul Allah, saat Engkau mencambukku, tak ada sehelai kainpun yang menghalangi lecutan cambuk itu..
Narator :
Tanpa berbicara, Rasul langsung melepaskan ghamisnya yang telah memudar. Dan tersingkaplah tubuh suci Rasulullah. Seketika pekik takbir menggema, semua yang hadir menangis pedih.
(Melihat tegap badan manusia yang di maksum itu, 'Ukasyah langsung menanggalkan cambuk dan berhambur ke tubuh Rasul. Sepenuh cinta direngkuhnya Rasul, sepuas keinginannya ia ciumi punggung Rasul begitu mesra. Gumpalan kerinduan yang mengkristal kepada beliau, dia tumpahkan saat itu. 'Ukasyah menangis gembira, 'Ukasyah bertasbih memuji Allah, 'Ukasyah berteriak haru, gemetar bibirnya berucap sendu)
Ukasyah : Tebusanmu, jiwaku ya Rasul Allah, siapakah yang sampai hati mengkisas manusia indah sepertimu. Aku hanya berharap tubuhku melekat dengan tubuhmu hingga Allah dengan keistimewaan ini menjagaku dari sentuhan api neraka".
Rasul : Ketahuilah duhai manusia, sesiapa yang ingin melihat penduduk surga, maka lihatlah pribadi lelaki ini.
Narator :
Ukasyah langsung tersungkur dan bersujud memuji Allah. Sedangkan yang lain berebut mencium 'Ukasyah. Pekikan takbir menggema kembali. "Duhai, 'Ukasyah berbahagialah engkau telah dijamin Rasul sedemikian pasti, bergembiralah engkau, karena kelak engkau menjadi salah satu yang menemani Rasul di surga". Itulah yang kemudian dihembuskan semilir angin ke seluruh penjuru Madinah.
SCENE VI
Narator :
Kemudian Rasulullah menyampaikan amanah terakhirnya. "Setelah para sahabat mendengar kata-kata amanah perpisahan Rasulullah s.a.w. mereka menjerit dan menangis dan kemudian berkata : "Ya Rasul Allah ! Engkau adalah Rasul kami, penghimpun pembina kekuatan kami dan penguasa urusan kami, apabila engkau pergi dari kalangan kami, kepada siapakah gerangan lagi kami serahkan urusan kami ?"
Maka menjawablah Rasul s.a.w. antara lain demikian bunyinya :
"Aku tinggalkan kamu di atas jalan yang terang, dan aku tinggalkan untukmu dua juru nasehat: yang berbicara dan yang diam. Penasehat yang berbicara ialah Al-Qur'an dan yang diam ialah Maut. Apabila kamu menghadapi persoalan-persoalan yang musykil, maka kembalilah kepada Al-Qur'an dan Sunnah, dan apabila hatimu kesat-kusut, maka tuntunlah dia dengan mengambil iktibar(mengambil hikmah) tentang peristiwa-peristiwa maut !"
SOUND : Ya Rasulullah – RAIHAN
All we need is…
Character :
NARATOR
PEMBACA PUISI
OPERATOR
SAHABAT1
SAHABAT2
ABU BAKAR
UMAR
ALI
HASAN
HUSEIN
BILAL
UKASYAH
FATIMAH
SAHABAT AKHWAT1
SAHABAT AKHWAT2
Sunday, December 6
Subscribe to:
Post Comments (Atom)


0 komentar:
Post a Comment